Laporan terbaru hasil asesmen pendidikan global Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 kembali memperlihatkan ketimpangan mutu pendidikan yang tajam di Argentina. Meskipun nilai rata-rata nasional mengalami penurunan yang cukup mengkhawatirkan di seluruh mata pelajaran, wilayah otonom Ciudad Autónoma de Buenos Aires (CABA) tetap mempertahankan posisinya di papan atas, kendati secara akumulatif nilainya juga mencatatkan tren penurunan performa.
Pada edisi evaluasi internasional yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) ini, hanya ada tiga yurisdiksi di Argentina yang memilih memperluas sampel pengujian independen guna memperoleh evaluasi terperinci, yakni CABA, Córdoba, dan Mendoza. Ketiganya mencatatkan dinamika pencapaian yang sangat kontras dibandingkan rata-rata nasional.
Kronologi Partisipasi Argentina dalam Evaluasi PISA
Sejak pertama kali diselenggarakan pada pergantian milenium, keikutsertaan Argentina dalam asesmen PISA telah melalui berbagai fase dinamika ekonomi dan politik:
- Tahun 2000: Argentina bergabung sebagai salah satu dari 32 negara pelopor dalam edisi perdana PISA untuk mengukur literasi siswa usia 15 tahun.
- Tahun 2003: Krisis ekonomi parah yang melanda Argentina pada 2001–2002 menyebabkan negara tersebut gagal melengkapi data asesmen.
- Tahun 2015: Argentina sempat dikeluarkan dari pemeringkatan utama akibat permasalahan teknis pada integritas sampel data sekolah.
- Tahun 2025: Hasil evaluasi PISA 2025 resmi dirilis, memperlihatkan jurang pemisah antara wilayah metropolitan mandiri dan rata-rata nasional.
Kesenjangan Kinerja Antarwilayah: CABA Memimpin, Nilai Nasional Terpuruk
Dalam tiga bidang utama yang diujikan—yakni Matematika, Membaca, dan Sains—ibu kota CABA menempati peringkat teratas di tingkat regional, disusul oleh Provinsi Córdoba di posisi kedua. Sebaliknya, rata-rata skor nasional Argentina secara umum terpuruk di posisi terbawah, dengan pengecualian pada bidang literasi membaca di mana Mendoza menempati posisi terendah.
"Hasil PISA 2025 menunjukkan paradoks nyata: di satu sisi Buenos Aires tetap memiliki salah satu performa terbaik di kawasan, namun di sisi lain terjadi kemerosotan standar yang melanda hampir seluruh pelosok negeri."
Kondisi ini menimbulkan keprihatinan mendalam bagi para pengamat kebijakan publik. Di bidang Sains, hanya ada satu provinsi yang mampu mencatatkan tren perbaikan skor, sementara mayoritas wilayah lainnya mengalami kemunduran signifikan dalam kemampuan aplikatif sains di kehidupan nyata.
Evaluasi Mendalam Terhadap Mutu Pendidikan Regional
Asesmen PISA dirancang untuk menguji kompetensi siswa berusia 15 tahun dalam menerapkan pengetahuan mereka pada skenario dunia nyata. Anjloknya nilai rata-rata nasional ini mengindikasikan bahwa sistem pendidikan dasar dan menengah di Argentina menghadapi tantangan struktural yang berat pascapandemi.
- Kesenjangan Anggaran dan Fasilitas: Yurisdiksi mandiri seperti CABA dan Córdoba memiliki alokasi anggaran serta infrastruktur teknologi pembelajaran yang jauh lebih memadai dibandingkan wilayah pedalaman.
- Standar Kurikulum yang Belum Merata: Rata-rata nasional yang berada di bawah ambang kompetensi dasar menandakan implementasi kurikulum belum menjangkau seluruh lapisan sosioekonomi secara efektif.
- Penurunan Literasi Dasar: Kurang dari delapan persen siswa secara nasional yang dinilai berhasil mencapai tingkat kompetensi dasar di bidang matematika dan sains terapan.
Kondisi paradoksal ini menjadi peringatan keras bagi otoritas pendidikan Argentina untuk segera merumuskan reformasi kurikulum yang inklusif agar pemulihan mutu pendidikan tidak hanya dinikmati oleh kota-kota besar semata.
Comments (0)