BULELENG, TERDEPAN.ID — UPTD Gedong Kirtya yang berada di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng kembali menggelar kegiatan edukasi budaya berbasis museum. Sebanyak 109 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari berbagai wilayah di Kabupaten Buleleng berkumpul untuk mempelajari seni naskah kuno melalui pelatihan tradisi nyurat lontar atau menulis aksara Bali di atas daun lontar.
Kegiatan berharga ini diselenggarakan dalam kerangka program Belajar Bersama Museum (BBM). Program ini dirancang khusus untuk mendekatkan generasi muda dengan warisan leluhur, sekaligus memberikan pengalaman interaktif yang tidak sekadar berfokus pada teori di dalam kelas, melainkan pada praktik langsung di lapangan.
Tahapan Pembelajaran dan Praktik Nyurat Lontar
Pelaksanaan kegiatan nyurat lontar ini berlangsung secara sistematis dan terstruktur. Para siswa dipandu secara intensif oleh para instruktur berpengalaman yang memahami tata cara serta etika dalam penulisan naskah lontar. Alur pelaksanaan workshop kebudayaan ini melalui beberapa tahapan utama:
- Pengenalan Teori dan Etika: Para peserta terlebih dahulu menyimak penjelasan dari instruktur mengenai sejarah media lontar, pengenalan bentuk aksara Bali, serta tata cara dan etika dasar dalam memegang media tulis khusus.
- Demonstrasi Teknik Penulisan: Instruktur memberikan contoh secara langsung mengenai teknik penggoresan aksara Bali di atas permukaan lontar menggunakan alat tulis khusus (pangrupak) agar siswa memahami kedalaman dan kestabilan goresan.
- Praktik Mandiri Terpandu: Setiap siswa menerima helaian daun lontar dan mulai meniru pola aksara yang telah disediakan di depan mereka, dengan pendampingan langsung dari tim pengajar UPTD Gedong Kirtya.
Melalui tahapan tersebut, para peserta dapat merasakan secara langsung tingkat ketelitian dan kesabaran yang dibutuhkan oleh para pujangga Bali pada masa lalu dalam merawat tradisi literasi.
Fokus Edukasi Tingkat SMP melalui Program BBM
Kepala UPTD Gedong Kirtya, Dewa Ayu Putu Susilawati, menegaskan bahwa program Belajar Bersama Museum kali ini secara sengaja membidik siswa tingkat SMP. Hal ini didasarkan pada pertimbangan kurikulum pendidikan, di mana para siswa jenjang SMP telah memiliki fondasi mata pelajaran Bahasa dan Aksara Bali di sekolah masing-masing.
Kebijakan ini berbeda dengan program Museum Masuk Sekolah yang sebelumnya difokuskan untuk tingkat Sekolah Dasar (SD). Siswa SMP dinilai lebih siap secara konseptual dan motorik untuk mempraktikkan teknik nyurat lontar yang membutuhkan ketelitian tinggi.
“Anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang lontar secara teoritis. Mereka juga belajar langsung bagaimana tata cara menulisnya secara benar di atas media tradisional,” tegas Dewa Ayu Putu Susilawati saat memberikan keterangan resmi.
Adapun perbedaan fundamental antara program BBM dan program edukasi museum lainnya meliputi:
- Target Sasaran: Program BBM menyasar siswa SMP yang telah memiliki dasar bahasa Bali, sedangkan Museum Masuk Sekolah menyasar tingkat SD.
- Metode Pembelajaran: Menekankan 80% praktik penggoresan aksara di media asli dibandingkan pemaparan materi teoritis semata.
- Pengalaman Otentik: Menggunakan sarana dan media museum yang bernilai sejarah tinggi secara langsung.
Lintas Budaya dan Pelestarian Warisan Nusantara
Aspek paling menarik dalam penyelenggaraan program ini adalah hadirnya inklusivitas dan keragaman latar belakang peserta. Pelatihan nyurat lontar ini turut diikuti oleh delapan siswa Muslim dari SMP Miftajul Ulum yang berlokasi di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak. Kehadiran mereka menegaskan bahwa tradisi dan kebudayaan daerah merupakan kekayaan bersama yang patut dipelajari oleh seluruh elemen masyarakat.
Bagi para siswa SMP Miftajul Ulum, ini merupakan pengalaman pertama mereka memegang media lontar dan menggoreskan aksara Bali di atasnya. Kebersamaan ini menciptakan suasana belajar yang harmonis tanpa memandang perbedaan agama maupun suku.
“Seluruh masyarakat dari berbagai latar belakang harus sama-sama melindungi dan melestarikan warisan budaya. Perbedaan tidak boleh menjadi pembatas dalam menjaga kebudayaan Nusantara,” tambah Susilawati.
Melalui sinergi antara UPTD Gedong Kirtya, dinas terkait, serta sekolah-sekolah di Kabupaten Buleleng, tradisi nyurat lontar diharapkan tidak hanya menjadi catatan sejarah dalam museum, tetapi terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai identitas kebudayaan bangsa yang inklusif.
Comments (0)