Teknologi

Data Center Nasional Terancam Penolakan Publik dan Krisis Energi

Pembangunan pusat data atau data center di Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, teknologi ini menjadi tulang punggung transformasi digital nasional. Di sisi lain, keberadaannya m...

Data Center Nasional Terancam Penolakan Publik dan Krisis Energi

Pembangunan pusat data atau data center di Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, teknologi ini menjadi tulang punggung transformasi digital nasional. Di sisi lain, keberadaannya mulai ditolak di berbagai daerah karena dianggap menguras energi dan merusak lingkungan. Fenomena ini bukan hanya terjadi di dalam negeri, melainkan sebuah tren global yang turut menghantam negara-negara maju. Ibarat seperti membangun pabrik raksasa yang tidak pernah tidur, data center menuntut pasokan listrik dan air tanpa henti, sementara warga sekitar mulai mempertanyakan manfaat langsungnya.

Menteri Agraria dan Tata Ruang, Agus Harimurti Yudhoyono, mengungkapkan bahwa hambatan utama bukan sekadar lahan, melainkan penerimaan sosial dan kesiapan infrastruktur energi. Dalam sejumlah forum, ia menegaskan bahwa pemerintah tengah mengevaluasi ulang tata ruang agar pembangunan fasilitas digital ini tidak menimbulkan konflik baru dengan masyarakat.

“Kita tidak bisa lagi hanya berbicara soal kecepatan internet, tetapi juga bagaimana memastikan listriknya tersedia, airnya cukup, dan masyarakatnya menerima,” tegasnya dalam sebuah paparan publik.

Mengapa Data Center Menjadi Sorotan Global

Data center adalah fasilitas yang menampung ribuan server untuk menyimpan, memproses, dan mendistribusikan data digital. Setiap kali seseorang mengunggah foto ke media sosial, melakukan transaksi e-commerce, atau menjalankan AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan), permintaan itu diproses di gedung-gedung ini. Semakin besar ekosistem digital, semakin rakus pula kebutuhan energinya.

Laporan internasional menunjukkan bahwa konsumsi listrik data center global dapat melampaui 1.000 terawatt-jam pada 2026, setara dengan kebutuhan listrik seluruh Jepang. Di Irlandia, data center telah mengonsumsi lebih dari 20 persen listrik nasional, memicu moratorium pembangunan di wilayah Dublin. Di Singapura, pemerintah sempat menghentikan sementara pembangunan data center baru selama beberapa tahun untuk menata ulang efisiensi energi. Virginia, Amerika Serikat, yang dijuluki ibukota data center dunia, kini menghadapi protes warga karena tagihan listrik rumah tangga melonjak dan pasokan air tanah menipis.

Pola serupa mulai terlihat di Indonesia. Beberapa kawasan industri di Jawa Barat dan Banten yang direncanakan menjadi klaster data center mendapat penolakan dari kelompok masyarakat karena dianggap tidak menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah signifikan, namun menuntut infrastruktur besar.

Tantangan Teknis dan Regulasi di Indonesia

Indonesia memiliki potensi besar sebagai pasar data center Asia Tenggara. Populasi lebih dari 270 juta jiwa, penetrasi smartphone yang tinggi, serta pertumbuhan platform digital menjadi magnet bagi investor. Namun, ada beberapa pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Pertama, pasokan listrik. Sebagian besar pembangkit listrik nasional masih bergantung pada batu bara. Jika data center menyerap daya besar dari jaringan yang sama, emisi karbon nasional bisa meningkat. Pemerintah mendorong penggunaan energi terbarukan, tetapi kapasitasnya belum cukup untuk memenuhi permintaan industri digital yang tumbuh dua digit per tahun.

Kedua, pendinginan. Server menghasilkan panas ekstrem dan membutuhkan sistem pendingin. Teknologi konvensional menggunakan air dalam jumlah besar. Di daerah yang sudah mengalami kekeringan, hal ini menjadi sensitif. Beberapa operator mulai beralih ke liquid cooling dan pemanfaatan udara luar, tetapi investasinya mahal.

Ketiga, tata ruang. Data center tidak bisa dibangun sembarangan. Ia butuh lokasi dengan konektivitas fiber optik, bebas banjir, dan dekat dengan sumber listrik stabil. Koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan operator masih sering tumpang tindih.

NegaraKebijakanDampak
IrlandiaMoratorium data center baru di DublinPembangunan melambat, operator pindah ke negara lain
SingapuraPenghentian sementara lalu seleksi ketatEfisiensi energi meningkat, inovasi pendinginan tumbuh
IndonesiaEvaluasi tata ruang dan insentif energiInvestasi tertahan, kebutuhan regulasi jelas

Peluang Inovasi dan Jalan Tengah

Penolakan di berbagai daerah bukan berarti data center harus berhenti dibangun. Justru, tekanan ini mendorong lahirnya inovasi. Beberapa pengembang global mulai merancang data center yang mengembalikan panas buangan ke jaringan pemanas kota, seperti yang dilakukan di Stockholm, Swedia. Ada pula yang membangun fasilitas terapung di lembah sungai untuk memanfaatkan air dingin alami, atau menempatkan server di bawah tanah gurun untuk pendinginan pasif.

Di Indonesia, pendekatan yang lebih partisipatif menjadi kunci. Masyarakat sekitar perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan, bukan setelah izin keluar. Program pelatihan tenaga kerja lokal untuk posisi teknisi jaringan, keamanan siber, dan manajemen fasilitas dapat mengubah persepsi dari ancaman menjadi peluang ekonomi.

Selain itu, pengembangan data center hijau yang sepenuhnya menggunakan energi terbarukan bisa menjadi nilai jual di mata investor global yang semakin menuntut standar ESG (Environmental, Social, and Governance/lingkungan, sosial, dan tata kelola). Pemerintah dapat memberikan insentif fiskal bagi operator yang mampu menekan konsumsi air dan emisi karbon.

Pada akhirnya, pertarungan data center bukan sekadar soal beton dan server. Ini tentang bagaimana sebuah negara menyeimbangkan ambisi digital dengan tanggung jawab ekologis. Tanpa perencanaan yang matang, pusat data bisa menjadi beban. Dengan pendekatan yang tepat, ia bisa menjadi fondasi ekonomi masa depan yang berkelanjutan. Pertanyaannya kini bukan apakah Indonesia butuh data center, melainkan bagaimana membangunnya tanpa mengorbankan lingkungan dan keadilan sosial.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User