BULELENG — Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan seni kriya tradisional Bali dari ancaman kepunahan. Menyikapi semakin langkanya juru tatah wayang serta seniman prasi (seni melukis di atas daun lontar), Disbudpar menggelar kompetisi khusus yang menyasar kalangan generasi muda dari seluruh penjuru Buleleng.
Ajang perlombaan ini dirancang bukan sebatas kompetisi untuk mencari pemenang, melainkan sebagai instrumen penjaringan bibit-bibit baru perajin tradisi. Pendekatan ini dinilai krusial di tengah degradasi minat anak muda terhadap seni warisan leluhur yang membutuhkan ketelitian dan ketekunan tinggi.
Darurat Regenerasi Seni Tradisional di Buleleng
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng, I Nyoman Wisandika, menegaskan bahwa ketersediaan perajin wayang kulit dan prasi saat ini berada pada level mengkhawatirkan. Tanpa adanya intervensi dari pemerintah daerah, keberlangsungan seni adiluhung ini diprediksi akan terputus.
"Harapan kita seperti itu, mereka bisa terus dibina. Kita tahu generasi muda yang berminat membuat wayang dan prasi itu sedikit sekali," ujar I Nyoman Wisandika dalam keterangannya.
Menurut Wisandika, Disbudpar berkomitmen untuk mengawal para peserta lomba agar tidak berhenti berkarya seusai kejuaraan berakhir. Pembinaan berkelanjutan menjadi target utama agar para talenta muda ini dapat berkembang menjadi perajin profesional yang mandiri.
Kronologi dan Format Pelaksanaan Kompetisi
Penyelenggaraan kompetisi budaya tahun ini dirancang lebih fokus dan terarah dengan melibatkan perwakilan dari seluruh kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Buleleng. Berikut alur pelaksanaan dan ketentuan kompetisi:
- Penjaringan Delegasi Kecamatan: Setiap kecamatan di Buleleng diwajibkan mendelegasikan dua orang perwakilan berusia 15 hingga 25 tahun, terdiri atas satu peserta kategori pembuatan wayang dan satu peserta kategori seni prasi.
- Pengerjaan Karya Terarah: Para peserta ditantang menunjukkan keahlian teknis secara langsung dalam menatah media kulit untuk wayang serta menoreh naskah dan gambar di atas daun lontar (prasi).
- Penyederhanaan Kategori Lomba: Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang menghadirkan empat hingga lima kategori, agenda tahun ini difokuskan hanya pada dua bidang utama guna memaksimalkan kualitas pembinaan.
- Program Pembinaan Lanjutan: Karya dan peserta terpilih akan diintegrasikan ke dalam basis data seniman muda binaan dinas kebudayaan setempat.
Penuntasan Serial Pandawa dan Prospek Tahun Depan
Khusus kategori kriya wayang kulit, tema figur yang diangkat pada perhelatan tahun ini adalah tokoh Sahadewa. Penetapan karakter ini sekaligus menandai babak pamungkas dari program pembuatan serial tokoh pewayangan Panca Pandawa yang telah berjalan bertahap selama beberapa tahun terakhir di Buleleng.
Secara berkala, Disbudpar Buleleng sebelumnya telah menuntaskan pembuatan empat figur Pandawa lainnya, yaitu:
- Yudistira sebagai representasi keteguhan kepemimpinan dan moral.
- Bima sebagai simbol kekuatan fisik dan perlindungan.
- Arjuna sebagai lambang kemahiran dan olah spiritual.
- Nakula sebagai representasi ketangkasan dan estetika.
Dengan rampungnya karakter Sahadewa, Disbudpar Buleleng memastikan format perlombaan wayang serupa tidak akan diteruskan tahun depan. Kebijakan ini diambil guna memberikan ruang bagi pelestarian jenis kesenian tradisional lainnya yang juga mendesak untuk diregenerasi.
Wisandika menambahkan, pihaknya tengah merancang kompetisi dengan muatan tradisi baru pada periode mendatang. Eksplorasi beragam medium tradisi diharapkan mampu memperluas cakrawala pemuda Buleleng terhadap spektrum kebudayaan daerah yang lebih luas dan variatif.
Comments (0)