LUMAJANG — Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut dilaporkan mengalami erupsi yang disertai suara dentuman dan gemuruh keras pada Rabu malam.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), letusan tersebut terdeteksi secara instrumental dengan intensitas getaran yang cukup kuat, meskipun visual kawah tertutup kabut saat peristiwa berlangsung.
Kronologi Erupsi dan Rekaman Kegempaan
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, menyampaikan bahwa aktivitas erupsi terekam secara rinci melalui peralatan seismograf di pos pantau. Rangkaian peristiwa erupsi tersebut tercatat dengan urutan sebagai berikut:
- Pukul 22.18 WIB: Sensor seismometer mendeteksi peningkatan getaran letusan yang berasal dari kawah utama Jonggring Saloko.
- Durasi 128 Detik: Getaran gempa letusan berlangsung terus-menerus selama 128 detik dengan amplitudo maksimum mencapai 25 milimeter.
- Suara Dentuman: Bersamaan dengan rekaman seismik, dentuman dan suara gemuruh terdengar jelas oleh warga serta petugas di sekitar kawasan lereng gunung.
"Erupsi Gunung Semeru pada pukul 22.18 WIB, visual letusan tidak teramati. Letusan Gunung Semeru itu disertai suara dentuman dan gemuruh," ujar Agastya Rajendra dalam laporan resminya.
Kondisi Masyarakat dan Respons Cepat BPBD
Meskipun suara dentuman terdengar cukup keras di sejumlah desa sekitar kaki gunung, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang memastikan situasi di pemukiman warga tetap kondusif dan terkendali. Tidak ada laporan kerusakan maupun korban jiwa akibat peristiwa tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, mengonfirmasi bahwa pihaknya langsung mengerahkan tim relawan dan petugas piket untuk memantau situasi di lapangan sesaat setelah dentuman terjadi.
"Alhamdulillah, tidak ada dampak merusak akibat suara gemuruh dan erupsi tersebut. Kami terus memonitor perkembangan aktivitas vulkanik bersama tim pos pantau PVMBG selama 24 jam penuh," ungkap Isnugroho.
Imbauan dan Zona Bahaya PVMBG
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Semeru masih bertahan pada status Level III (Siaga). Sehubungan dengan status tersebut, PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting guna menjamin keselamatan masyarakat di lereng Semeru:
- Larangan Aktivitas Sektor Tenggara: Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak.
- Sempadan Sungai: Di luar jarak 13 kilometer, masyarakat tidak boleh beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar.
- Radius Kawah: Warga dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan bahaya lontaran batu pijar.
- Waspada Lahar Dingin: Masyarakat diimbau selalu mewaspadai potensi Awan Panas Guguran (APG), guguran lava, dan banjir lahar dingin di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru.
Pemerintah daerah mengimbau warga agar tetap tenang, tidak mudah terpancing isu bohong, serta selalu mematuhi arahan resmi dari PVMBG dan BPBD Lumajang.
Comments (0)