Teknologi

Guru Desak Pembatasan Durasi Layar Digital di Sekolah Dasar

JAKARTA, Terdepan.id — Para pendidik dan guru di tingkat sekolah dasar kini mulai menyuarakan keprihatinan mendalam terkait tingginya intensitas penggunaan

Guru Desak Pembatasan Durasi Layar Digital di Sekolah Dasar

JAKARTA, Terdepan.id — Para pendidik dan guru di tingkat sekolah dasar kini mulai menyuarakan keprihatinan mendalam terkait tingginya intensitas penggunaan perangkat digital dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Berdasarkan hasil riset dan laporan pendidikan terbaru, siswa sekolah dasar dilaporkan menghabiskan lebih dari seperempat waktu kelas (25 persen) di depan layar gawai, bahkan untuk aktivitas-aktivitas yang secara resmi diizinkan oleh kurikulum. Tren digitalisasi yang awalnya dirancang untuk meningkatkan interaktivitas kini dianggap mulai mengikis efektivitas pembelajaran tatap muka dan interaksi sosial anak.

Kronologi Meningkatnya Penggunaan Gawai di Ruang Kelas

Penggunaan perangkat elektronik seperti tablet dan laptop di ruang kelas mengalami lonjakan signifikan dalam satu dekade terakhir. Transformasi digital ini melewati beberapa fase krusial sebelum akhirnya menuai kritik dari para pengajar:

  1. Tahun 2015–2019: Pengenalan awal teknologi digital sebagai media pendukung dalam bentuk papan tulis interaktif dan komputer laboratorium.
  2. Tahun 2020–2021: Masa pandemi COVID-19 memaksa migrasi total ke pembelajaran jarak jauh (PJJ), yang mewajibkan setiap siswa berinteraksi penuh melalui layar gawai.
  3. Tahun 2022–Sekarang: Pasca-pandemi, metode blended learning tetap dipertahankan secara masif di sekolah dasar, menyebabkan proporsi penggunaan gawai di ruang kelas melonjak hingga melampaui 25 persen dari total durasi jam pelajaran.

Keluhan Guru dan Dampak Negatif Ketergantungan Layar

Banyak pengajar menilai bahwa proporsi waktu di depan layar yang mencapai seperempat jam pelajaran sudah berada pada taraf yang mengkhawatirkan. Tingginya durasi screen time ini dinilai berdampak langsung pada kemampuan konsentrasi dan daya tangkap para siswa sekolah dasar.

"Kami tidak menolak teknologi, namun ketika anak usia sekolah dasar menghabiskan lebih dari 25 persen jam sekolah hanya untuk menatap layar tablet, daya fokus mereka terhadap buku fisik dan instruksi langsung merosot tajam. Harus ada batasan tegas yang diterapkan oleh kementerian pendidikan," tegas salah satu perwakilan asosiasi guru.

Beberapa dampak utama yang dirasakan langsung oleh tenaga pengajar di lapangan meliputi:

  • Penurunan Daya Fokus: Siswa menjadi lebih cepat bosan ketika dihadapkan pada materi pembelajaran konvensional tanpa rangsangan visual digital.
  • Gangguan Keterampilan Motorik dan Sosial: Berkurangnya interaksi fisik dan kegiatan menulis tangan secara manual yang sangat penting bagi perkembangan anak tingkat dasar.
  • Masalah Kesehatan Fisik: Meningkatnya keluhan kelelahan mata (eye strain) serta postur tubuh yang buruk pada anak usia dini akibat terlalu lama menatap layar.

Rekomendasi Kebijakan Pembatasan Layar Digital

Menanggapi situasi ini, koalisi guru dan pakar perkembangan anak mendesak pemerintah serta otoritas pendidikan lokal untuk segera menerbitkan regulasi mengenai batasan maksimum penggunaan gawai di sekolah. Mereka merekomendasikan agar penggunaan layar digital di tingkat sekolah dasar dibatasi maksimal 10 hingga 15 persen dari total jam pelajaran harian.

Selain pembatasan durasi, para guru juga mengusulkan pengembalian porsi penggunaan buku cetak dan alat tulis fisik dalam porsi yang lebih dominan. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kognitif digital dan kemampuan dasar literasi siswa. Dengan adanya regulasi yang jelas, ruang kelas diharapkan dapat kembali menjadi tempat interaksi sosial yang aktif, eksploratif, dan sehat bagi pertumbuhan anak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User