Bisnis

JAKARTA — Hoaks Foto Digital Edit Jokowi Baca Buku Siksa Kubur Beredar

Layar gawai masyarakat Indonesia kembali dihebohkan oleh peredaran sebuah unggahan gambar yang memperlihatkan mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Wido

JAKARTA — Hoaks Foto Digital Edit Jokowi Baca Buku Siksa Kubur Beredar

Layar gawai masyarakat Indonesia kembali dihebohkan oleh peredaran sebuah unggahan gambar yang memperlihatkan mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, sedang duduk santai mengenakan kemeja putih khasnya sembari membaca sebuah buku dengan judul yang mencolok: "Dahsyatnya Siksa Kubur". Foto tersebut beredar cepat di berbagai jejaring media sosial seperti X (Twitter), Facebook, hingga grup-grup percakapan WhatsApp, memicu beragam respons mulai dari gelak tawa, spekulasi politik, hingga komentar serius yang meyakini kebenaran foto tersebut.

Namun, berdasarkan penelusuran fakta mendalam yang dilakukan oleh tim redaksi, dapat dipastikan bahwa foto yang beredar tersebut merupakan hasil rekayasa digital (digital manipulation). Gambar asli sama sekali tidak memperlihatkan mantan kepala negara tersebut sedang mendalami buku bertema eskatologi keagamaan tersebut, melainkan sebuah literatur ilmu politik dan demokrasi global yang sempat menjadi sorotan publik beberapa tahun silam.

Jejak Digital dan Anatomi Manipulasi Visual

Melalui metode penelusuran gambar terbalik (reverse image search) menggunakan mesin pencari Google Images dan TinEye, jejak asal-usul foto otentik tersebut berhasil teridentifikasi. Foto asli diambil pada 22 November 2020 dan diunggah secara resmi melalui akun media sosial pribadi Presiden Joko Widodo (@jokowi).

Dalam dokumentasi aslinya, Jokowi yang kala itu masih aktif menjabat sebagai Presiden RI sedang mengisi hari Minggu pagi di Istana Bogor dengan membaca buku karya dua profesor asal Harvard University, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Buku bertajuk "How Democracies Die" tersebut mengulas analisis mendalam mengenai bagaimana proses demokrasi di berbagai negara mengalami kemunduran dari dalam.

Pelaku manipulasi konten dengan sengaja menimpa (overlay) sampul buku otentik tersebut dengan gambar sampul buku keagamaan populer bernuansa peringatan kematian, yang belakangan ini juga identik dengan judul sebuah film horor lokal. Perubahan visual ini secara drastis menggeser narasi utama dari isu bobot intelektual geopolitik menjadi bahan olokan atau propaganda politik bernada sindiran.

Parameter Analisis Foto Otentik (Fakta) Foto Terdistribusi (Hoaks)
Judul Buku How Democracies Die Dahsyatnya Siksa Kubur
Waktu Pengambilan 22 November 2020 Resirkulasi 2024 / Pasca-Presidensi
Teknik Rekayasa Foto Asli Dokumentasi Resmi Penyuntingan Sampul Digital (Photoshop)
Status Verifikasi FAKTA / OTENTIK MISINFORMASI / EDITAN

Dampak Propaganda Satir dan Literasi Digital

Fenomena beredarnya foto rekayasa ini menarik perhatian para pengamat media dan komunikasi publik. Garis batas antara lelucon internet (meme satire) dan kampanye disinformasi kerap kali kabur ketika disebarkan di ruang publik tanpa keterangan konteks yang jelas.

Pakar komunikasi digital dari Institut Media Terbuka, Dr. Aris Munandar, menegaskan bahwa manipulasi visual sederhana sekalipun dapat membentuk opini publik yang keliru jika diterima oleh audiens yang memiliki tingkat literasi digital rendah.

"Ketika sebuah gambar hasil editan disebarkan secara masif tanpa label 'satire' atau 'humor', sebagian netizen akan menganggapnya sebagai kebenaran mutlak. Dalam konteks foto mantan Presiden Jokowi ini, ada upaya subliminal untuk membangun narasi sindiran politik yang manipulatif," ujar Dr. Aris dalam wawancara khusus.

Guna menghindari jebakan informasi palsu serupa di masa mendatang, publik diimbau untuk selalu menerapkan langkah-langkah verifikasi sederhana sebelum membagikan ulang sebuah konten visual di media sosial:

  • Perhatikan Detail Kualitas Visual: Amati bagian batas antara jemari tangan dan sampul buku. Pada foto editan, sering kali terlihat piksel yang tidak rata, distorsi garis, atau perbedaan intensitas pencahayaan yang tampak abnormal.
  • Lakukan Pencarian Gambar Terbalik: Unggah foto mencurigakan ke platform seperti Yandex Images atau Google Lens untuk menemukan rilis original dari foto tersebut.
  • Cek Kredibilitas Sumber: Pastikan informasi yang menyertai foto tersebut berasal dari media arus utama atau lembaga pemeriksa fakta terverifikasi.

Tantangan Mengawal Ruang Publik Pasca-Presidensi

Beredarnya hoaks foto ini menjadi gambaran betapa figur publik—bahkan setelah purna tugas—tetap menjadi sasaran empuk konten disinformasi. Sepanjang sepuluh tahun kepemimpinannya, Joko Widodo telah berulang kali menjadi subjek manipulasi digital, mulai dari kutipan palsu, rekaman suara rakitan (deepfake audio), hingga rekayasa foto wajah.

Di era di mana perangkat kecerdasan buatan dan aplikasi penyunting gambar makin mudah diakses oleh siapapun, kewaspadaan publik menjadi benteng utama pertahanan dari gempuran informasi menyesatkan. Foto "Dahsyatnya Siksa Kubur" ini menjadi pengingat nyata bahwa tidak semua yang tampak di layar gawai menggambarkan kenyataan yang sebenarnya.

Sebuah foto memperlihatkan mantan Presiden Jokowi membaca buku "Dahsyatnya Siksa Kubur" beredar di jejaring sosial. Penelusuran mengonfirmasi gambar tersebut adalah hasil penyuntingan digital (Photoshop) dari foto asli bertanggal 22 November 2020, saat beliau sebenarnya membaca buku karya Steven Levitsky & Daniel Ziblatt berjudul "How Democracies Die". Baca ulasan lengkap penelusuran digitalnya di Terdepan.id!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User