Teknologi

Ketika Perbedaan Memecah Bangsa: Pelajaran dari Sejarah Sosial Israel

Bayangkan sebuah komunitas yang dibangun di atas mimpi untuk menjadi rumah bersama bagi semua orang yang senasib. Namun di balik tembok solidaritas itu, ternyata tersimpan retakan yang dalam. Inilah y...

Ketika Perbedaan Memecah Bangsa: Pelajaran dari Sejarah Sosial Israel

Bayangkan sebuah komunitas yang dibangun di atas mimpi untuk menjadi rumah bersama bagi semua orang yang senasib. Namun di balik tembok solidaritas itu, ternyata tersimpan retakan yang dalam. Inilah yang terjadi pada Israel, sebuah negara yang didirikan sebagai tempat perlindungan bagi orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia, tetapi justru di dalamnya pernah tumbuh konflik antarkelompok yang sama-sama mengaku sebagai bagian dari bangsa Yahudi itu sendiri.

Mengapa kisah ini penting bagi kita semua, termasuk pembaca di Indonesia? Karena apa yang terjadi di sana adalah cermin universal: bagaimana sebuah masyarakat yang dibangun atas dasar kesamaan identitas sering kali justru menghadapi ujian terberatnya dari perbedaan internal. Ibarat sebuah keluarga besar yang pindah ke rumah baru demi keamanan bersama, namun lalu bertengkar soal siapa yang paling berhak menentukan aturan rumah.

Ketika Satu Identitas Tak Berarti Satu Suara

Sejak awal berdirinya pada 1948, Israel menerima gelombang imigrasi besar-besaran dari berbagai negara: Eropa, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika. Para pendatang ini membawa tradisi, bahasa, dan cara pandang yang tidak selalu sama. Ada kelompok Yahudi Ashkenazi yang datang dari Eropa Timur dengan latar pendidikan modern, ada Mizrahi dari negara-negara Arab, ada juga komunitas Beta Israel dari Ethiopia.

Perbedaan ini awalnya dianggap sebagai kekayaan. Namun dalam praktiknya, negara kerap tidak memperlakukan semua kelompok secara setara. Penelitian sejarawan menunjukkan bahwa pada dekade-dekade awal, pendatang dari Timur Tengah dan Afrika sering ditempatkan di kota pinggiran dengan fasilitas terbatas, sementara kasta etnis Eropa menikmati akses lebih besar ke pendidikan dan pekerjaan.

Data historis: Pada 1950-an dan 60-an, terjadi protes besar dari kelompok Mizrahi yang merasa diskriminasi sistemik. Salah satu peristiwa paling dikenal adalah kerusuhan Wadi Salib pada 1959 di Haifa, yang dipicu oleh ketidakadilan sosial terhadap warga Yahudi Maroko.

Teknologi dan Ekosistem Sosial yang Tidak Netral

Menarik ketika melihat bagaimana inovasi di bidang teknologi justru memperlihatkan ketimpangan ini secara lebih terang. Israel dikenal sebagai "Startup Nation", pusat deep tech (teknologi mendalam) dunia dengan ribuan perusahaan rintisan. Namun siapa yang menikmati buah inovasi itu? Data dari berbagai laporan ekonomi menunjukkan bahwa akses ke industri teknologi tinggi tidak merata antar kelompok.

Komunitas Haredi (Yahudi ultraortodoks) dan Arab-Israel sering tertinggal dalam partisipasi ekonomi berteknologi. Ini menunjukkan bahwa kemajuan sains dan teknologi tidak otomatis menyelesaikan masalah sosial. Bahkan, algoritma dan platform digital bisa memperkuat prasangka jika datanya sudah bias sejak awal.

"Inovasi tanpa keadilan hanya akan menciptakan dua dunia di satu negara," demikian inti kritik yang sering dilontarkan para pengamat sosial di kawasan tersebut.

Pelajaran untuk Ekosistem Kita

Apa yang bisa kita ambil? Pertama, identitas bersama tidak menjamin harmoni. Bahkan dalam sebuah bangsa yang merasa punya satu tujuan, perpecahan bisa muncul dari kebijakan yang tidak inklusif.

Kedua, implementasi kebijakan publik harus selalu dievaluasi dengan data, bukan asumsi. Ketika satu kelompok merasa tidak didengar, eskalasi konflik hanya soal waktu.

Ketiga, teknologi bisa menjadi alat pemersatu atau pemecah, tergantung siapa yang mendesain dan menggunakannya. Machine learning (pembelajaran mesin) yang dilatih dengan data tidak seimbang hanya akan mewariskan diskriminasi ke generasi berikutnya.

Perpecahan di Israel adalah pengingat bahwa membangun masyarakat majemuk adalah pekerjaan tanpa henti. Inovasi besar tidak cukup jika tidak diiringi keadilan bagi semua warganya. Disrupsi sejati bukan hanya soal teknologi, tetapi soal cara kita memperlakukan sesama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User