Teknologi

Kisah Yani di Tebing Tinggi, Bertahan Jadi Ojol demi Sekolah Tiga Anak

Di bawah terik matahari yang menyengat aspal Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, deru mesin sepeda motor tua terus berpacu membelah kepadatan jalanan. Di b

Kisah Yani di Tebing Tinggi, Bertahan Jadi Ojol demi Sekolah Tiga Anak

Di bawah terik matahari yang menyengat aspal Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, deru mesin sepeda motor tua terus berpacu membelah kepadatan jalanan. Di balik kemudi roda dua tersebut, Yani, seorang warga lokal, menyandarkan seluruh harapan hidup keluarganya pada aplikasi pemesanan transportasi daring.

Profesi sebagai pengemudi ojek online (ojol) telah menjadi tumpuan utama bagi Yani untuk menyambung hidup. Meski realitas di lapangan kerap tidak seindah ekspektasi masyarakat perkotaan, semangatnya tidak pernah surut demi satu tujuan mulia: memastikan ketiga buah hatinya dapat terus mengenyam bangku pendidikan tanpa terputus.

Realitas Penghasilan Harian yang Tak Menentu

Bekerja dari pagi hingga malam hari di jalanan tidak otomatis menjamin penghasilan yang melimpah bagi para mitra pengemudi di daerah. Yani mengungkapkan bahwa pendapatan kotor harian yang ia bawa pulang sering kali hanya berkisar di angka Rp100.000 per hari, bahkan bisa lebih minim saat orderan sedang sepi.

"Penghasilan sehari-hari kadang cuma dapat sekitar Rp100 ribu. Itu pun belum dipotong beli bensin untuk operasional narik dan uang makan seharian di jalan," ungkap Yani saat ditemui di sela-sela waktu istirahatnya.

Dari pendapatan kotor tersebut, Yani masih harus menyisihkan dana untuk berbagai kebutuhan operasional mendesak. Jika dirinci, sisa uang bersih yang dibawa pulang untuk keluarga kerap kali sangat minim:

  • Bahan Bakar Minyak (BBM): Menghabiskan sekitar Rp20.000 hingga Rp30.000 per hari tergantung jarak tempuh pesanan.
  • Konsumsi Harian: Pengeluaran makan dan minum sederhana saat menunggu pesanan di jalanan berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000.
  • Pendapatan Bersih: Sisa uang yang dapat dialokasikan untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah rata-rata hanya Rp50.000 per hari.

Dua Sisi Tantangan Pekerja Sektor Informal

Kondisi yang dihadapi Yani mencerminkan potret riil ribuan pekerja sektor informal di berbagai daerah di Indonesia. Minimnya opsi lapangan pekerjaan formal membuat profesi pengemudi transportasi daring menjadi alternatif paling realistis, kendati harus berhadapan dengan risiko fluktuasi pendapatan dan ketiadaan jaminan upah minimum.

Tekanan semakin berat ketika harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, sementara tarif per kilometer yang diterima mitra pengemudi terhitung stagnan. Kondisi cuaca ekstrem, mulai dari panas terik hingga hujan deras, menjadi santapan harian yang harus dilalui demi mendapatkan beberapa rupiah dari setiap kilometer perjalanan.

Tekad Kuat demi Masa Depan Tiga Buah Hati

Kendati dihadapkan pada keterbatasan ekonomi yang menghimpit, Yani menolak untuk menyerah. Keringat dan keletihan fisik yang dirasakannya setiap hari ditebus dengan tekad bulat agar masa depan ketiga anaknya jauh lebih baik dibanding dirinya.

"Yang penting anak-anak bisa terus sekolah dan tidak merasakan putus pendidikan seperti yang banyak terjadi. Selama masih diberi kesehatan, panas dan hujan akan tetap saya jalani," tutur Yani dengan penuh keteguhan hati. Dedikasi tanpa pamrih ini membuktikan bahwa perjuangan orang tua di jalanan adalah fondasi utama bagi generasi penerus bangsa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User