Perpisahan Lionel Messi dari tim nasional Argentina setelah 21 tahun berkarier tidak hanya memicu gemuruh ovasi di Stadion Monumental dan ribuan pesan di media sosial. Gaungnya merambat jauh melampaui Buenos Aires, mengguncang ruang redaksi media olahraga paling berpengaruh di dunia. Sejumlah harian terkemuka di Eropa mengangkat momen tersebut sebagai laporan utama, menyoroti satu gol serta dua asisten yang dicatatkan La Pulga pada laga persahabatan melawan Benin, sekaligus mengingatkan bahwa Albiceleste akan sangat kehilangan sosok kaptennya.
Laga yang digelar di hadapan sekitar 85.000 penonton itu secara resmi dipromosikan Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) sebagai "El Último Tango" atau tarian terakhir. Julukan tersebut kemudian diadopsi luas oleh media internasional, menjadikannya semacam penanda kolektif atas berakhirnya sebuah era yang membentang lebih dari dua dekade.
Gazzetta dello Sport: Ketika Argentina dan Messi Menari untuk Terakhir Kali
Harian Italia, La Gazzetta dello Sport, memilih pendekatan puitis dengan mengaitkan perpisahan Messi pada ungkapan legenda tango Enrique Santos Discépolo. Discépolo pernah menyebut tango sebagai "pikiran sedih yang ditarikan", dan Gazzetta meminjam frasa itu untuk membingkai suasana malam di Monumental.
"Argentina dan Leo Messi menari bersama untuk terakhir kalinya di Monumental, di hadapan 85.000 orang yang berpakaian biru dan putih, siap melepas idola hidup mereka."
Nada yang dipilih media Italia itu menegaskan bahwa peristiwa ini tidak dibaca semata sebagai pertandingan persahabatan biasa. Ia diposisikan sebagai ritual budaya, sebuah upacara perpisahan yang menyatukan sepak bola dengan identitas nasional.
L'Equipe dan Marca Soroti Kontribusi Statistik Sang Kapten
Di Prancis, L'Équipe menyoroti produktivitas Messi di laga penutupnya. Media itu mencatat bahwa meski usianya tidak lagi muda, kontribusi pemain kelahiran Rosario tersebut tetap menentukan. Sementara itu, harian Spanyol Marca menyoroti kombinasi gol dan dua asisten sebagai bukti bahwa ketajaman Messi belum memudar.
Berbagai media sepakat pada satu titik: kepergian Messi meninggalkan lubang besar yang tidak mudah diisi. Berikut ringkasan sorotan sejumlah media internasional terhadap laga tersebut:
| Media | Negara | Fokus Sorotan |
|---|---|---|
| La Gazzetta dello Sport | Italia | Metafora tango dan suasana emosional di Monumental |
| L'Equipe | Prancis | Kontribusi Messi dan warisan kepemimpinannya |
| Marca | Spanyol | Gol dan dua asisten pada laga pamungkas |
Warisan Seorang Kapten dan Masa Depan Albiceleste
Bagi banyak pengamat, angka statistik hanyalah sebagian kecil dari cerita. Yang lebih sulit diukur adalah dampak kepemimpinan Messi terhadap generasi pemain Argentina berikutnya. Selama lebih dari dua dekade, ia menjadi rujukan teknis sekaligus figur emosional yang menyatukan tim di tengah tekanan luar biasa dari publik yang menuntut gelar.
Pertanyaan besar yang kini menggantung adalah seberapa siap Argentina melangkah tanpa sosok yang selama ini menjadi poros permainannya. Media-media besar tampaknya sepakat pada satu hal: kepergian Messi meninggalkan ruang kosong yang tidak akan mudah diisi, baik dari sisi permainan maupun dari sisi makna.
Perpisahan itu pun berubah menjadi semacam refleksi global tentang bagaimana sebuah bangsa menempatkan seorang atlet bukan hanya sebagai pemain, melainkan sebagai simbol identitas. Malam di Monumental mungkin telah usai, namun gaungnya akan terus dibicarakan jauh setelah peluit akhir berbunyi.
La Gazzetta dello Sport menyebutnya "El Último Tango". L'Equipe dan Marca menyoroti gol serta dua asisten Messi pada laga melawan Benin. 85.000 penonton di Monumental menjadi saksi malam terakhir sang kapten bersama Timnas Argentina setelah 21 tahun. Pertanyaannya kini: siapakah yang mampu mengisi ruang yang ditinggalkan Messi?
Comments (0)