Teknologi

OnePlus Kabarnya Hentikan Operasi Global, Realme Angkat Kaki dari Cina

Kabar mengejutkan datang dari industri ponsel pintar: rumor penghentian operasi OnePlus di Amerika Serikat dan Eropa tampaknya bukan sekadar langkah mundur biasa. Sebuah laporan terbaru mengindikasika...

OnePlus Kabarnya Hentikan Operasi Global, Realme Angkat Kaki dari Cina

Kabar mengejutkan datang dari industri ponsel pintar: rumor penghentian operasi OnePlus di Amerika Serikat dan Eropa tampaknya bukan sekadar langkah mundur biasa. Sebuah laporan terbaru mengindikasikan bahwa penyusutan ini akan meluas hingga ke pasar-pasar lain di luar dua kawasan tersebut pada tahun depan. Bahkan, Realme—merek saudara di bawah ekosistem BBK—disebut-sebut bakal sepenuhnya meninggalkan pasar Cina. Bagi konsumen, pergeseran ini ibarat gempa kecil di lanskap persaingan ponsel: akses ke perangkat dengan spesifikasi tinggi berharga kompetitif bisa menyusut drastis, dan loyalitas penggemar selama bertahun-tahun terancam pudar tanpa kepastian dukungan purna jual.

OnePlus: Dari Flagship Killer ke Pengkerdilan Pasar

Sejak meluncurkan OnePlus One pada 2014 dengan jargon "Never Settle", merek ini identik dengan performa flagship harga medio. Selama satu dekade, strategi “flagship killer”-nya menciptakan basis penggemar setia, terutama di AS dan Eropa, yang rela mengantre dalam undangan pembelian. Namun, pasca-merger formal dengan Oppo pada 2021, identitas independen OnePlus perlahan memudar. Perangkat seperti OnePlus 13—dengan layar AMOLED 6,82 inci, chip Snapdragon 8 Gen 4, dan pengisian daya 100W—masih mendapat pujian, tetapi ketersediaan regional makin terbatas.

Laporan yang beredar kini menyebut bahwa penutupan operasi di AS dan Eropa hanyalah tahap awal. Mulai 2026, pasar seperti Inggris, beberapa negara Asia Pasifik, bahkan kemungkinan Timur Tengah akan ikut terdampak. Alih-alih memperluas cakupan, OnePlus tampaknya akan diposisikan sepenuhnya di bawah payung Oppo, dengan fokus hanya pada segelintir pasar seperti India dan Cina. Ini bukan kali pertama pemain ponsel besar “mengecilkan diri”: LG menutup divisi mobile pada 2021, tetapi langkah OnePlus terasa lebih mencengangkan karena merek ini dianggap masih punya daya tarik signifikan di Barat.

Realme “Pulang” dari Rumah Sendiri

Sementara itu, nasib Realme di Cina menjadi kepingan lain dari strategi restrukturisasi besar-besaran. Realme lahir pada 2018 sebagai tanggapan terhadap gelombang merek ramah kantong, dan awalnya sukses mengukir pasar domestik Cina. Namun, data penjualan sejak 2022 menunjukkan penurunan tajam: pangsa pasar Realme di Cina terus tergerus oleh vivo, Honor, dan Xiaomi. Keluar dari Cina adalah keputusan logis secara bisnis—ibarat memangkas cabang yang merugi agar pohon induk tetap subur.

“Perang harga di Cina sudah mencapai titik jenuh. Realme tak lagi bisa bersaing tanpa mengorbankan margin signifikan. Mundur dan mengalihkan sumber daya ke pasar berkembang seperti India dan Amerika Latin adalah langkah pragmatis,” komentar seorang analis industri teknologi yang enggan disebutkan namanya.

Implikasinya cukup besar: konsumen Cina akan kehilangan satu opsi ponsel murah dengan spesifikasi yang kerap melebihi harganya. Sementara itu, konsumen di Indonesia, India, dan kawasan lain justru bisa menikmati lebih banyak model Realme karena sumber daya penelitian dan pemasaran dialihkan ke sana.

Pergeseran Strategi Oppo dan Masa Depan Ekosistem BBK

Kedua langkah ini tidak bisa dilepaskan dari induk yang sama, BBK Electronics (kini lebih dikenal melalui identitas Oppo). Oppo sendiri telah lama mengelola beberapa merek secara paralel, mirip strategi multi-brand ala Samsung atau Volkswagen Group. Akan tetapi, kanibalisme internal dan tekanan makroekonomi memaksa konsolidasi.

MerekStatus Saat IniPrediksi 2026
OppoGlobal, fokus Asia & EropaMenguasai Eropa menggantikan OnePlus
OnePlusMenyusut di AS/EropaTerbatas di India & Cina
RealmeGlobal, lesu di CinaKeluar Cina, ekspansi agresif ke pasar berkembang
Vivo/iQOOKuat di Asia, Eropa terbatasRelatif stabil

Perubahan ini memunculkan pertanyaan besar: apakah penggemar OnePlus akan beralih ke Oppo atau mencari alternatif lain seperti Google Pixel dan Nothing? Dengan ekosistem yang semakin sempit, konsumen mungkin kehilangan salah satu pendorong utama inovasi dan harga kompetitif. Di sisi lain, keputusan tegas BBK untuk merampingkan jajaran merek bisa menjadi cetak biru bagi produsen lain yang berjuang di industri ponsel yang kian matang. Hingga pengumuman resmi keluar, satu hal yang pasti: peta persaingan smartphone global sedang digambar ulang, dan tidak semua pemain akan mendapat tempat di dalamnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User