PONTIANAK — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) resmi memperpanjang masa berlaku Status Tanggap Darurat Penanganan Bencana Asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) hingga 20 September mendatang. Keputusan strategis ini diambil guna mengoptimalkan pengerahan seluruh sumber daya pemadaman menyusul masih tingginya intensitas titik api yang tersebar di sejumlah kawasan rawan gambut.
Perpanjangan status tanggap darurat tersebut menjadi landasan hukum bagi percepatan mobilisasi personel gabungan, pemanfaatan pos anggaran Belanja Tak Terduga (BTT), serta koordinasi intensif bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk operasi darat maupun udara.
Kronologi Eskalasi Titik Panas dan Langkah Penanganan
Peningkatan eskalasi kebakaran lahan gambut di Kalimantan Barat tercatat mengalami dinamika signifikan dalam beberapa pekan terakhir seiring puncak musim kemarau. Rangkaian penanganan terangkum dalam kronologi berikut:
- Deteksi Lonjakan Titik Panas: Satelit pemantau mendeteksi lonjakan ratusan titik panas (hotspot) di sejumlah kabupaten sentral gambut seperti Kubu Raya, Ketapang, Mempawah, dan Sanggau, yang memicu penurunan kualitas udara secara drastis.
- Operasi Tanggap Darurat Tahap Pertama: Satuan Tugas Gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan pemadam kebakaran mandiri diterjunkan ke titik-titik krusial guna melokalisasi perambatan api di bawah permukaan tanah gambut.
- Evaluasi dan Penetapan Perpanjangan: Menimbang potensi kemarau yang masih berlanjut dan ancaman kabut asap lintas wilayah, Pemprov Kalbar menetapkan perpanjangan status tanggap darurat hingga 20 September untuk memperkuat penanganan terpadu.
Strategi Pemadaman Terpadu dan Modifikasi Cuaca
Karakteristik lahan gambut yang memiliki kedalaman bahan bakar organik tinggi menuntut metode pemadaman berkelanjutan. Tim darat terus melakukan teknik perendaman (flooding) dan penyekatan parit untuk memutus suplai oksigen pada bara api di bawah tanah.
"Prioritas utama saat ini adalah memutus penjalaran api di area gambut dalam yang dekat dengan permukiman warga dan fasilitas publik. Satgas gabungan tidak mengendurkan patroli darat dan pembasahan intensif," tegas perwakilan Satgas Penanggulangan Karhutla Kalbar.
Selain pergerakan regu darat, pemerintah daerah bersama BNPB terus menyiagakan armada helikopter untuk operasi pengeboman air (water bombing) di lokasi-lokasi terpencil yang sulit dijangkau lewat akses darat. Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga dioptimalkan saat bibit awan hujan potensial terdeteksi di atmosfer Kalbar.
Dampak Kualitas Udara dan Kesiapsiagaan Sektor Kesehatan
Dampak kepulan asap karhutla telah menyebabkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa wilayah sempat menyentuh kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat. Mengantisipasi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pemerintah daerah menginstruksikan langkah mitigasi kesehatan:
- Distribusi Masker Massal: Pembagian masker medis dan respirator kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pengendara jalan raya.
- Kesiagaan Puskesmas 24 Jam: Penyediaan posko kesehatan dan ruang oksigen gratis di puskesmas serta rumah sakit rujukan daerah.
- Penegakan Hukum Karhutla: Penyelidikan ketat oleh aparat kepolisian terhadap dugaan pembukaan lahan dengan cara membakar secara ilegal.
Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan tanpa perlindungan masker serta proaktif melaporkan kemunculan titik api baru kepada petugas terdekat guna mencegah kebakaran meluas tak terkendali.
Comments (0)