Bayangkan orang tua di Amerika Serikat (AS) yang setiap pagi harus memutar otak memastikan anaknya mendapat sarapan layak sebelum berangkat sekolah. Harapan itu sempat membubung ketika pemerintah federal menggulirkan janji program makanan bergizi gratis. Namun kini, janji tersebut ibarat balon yang perlahan kehilangan udara. Sejumlah laporan menyebut implementasi program makan bergizi ala pemerintahan Presiden Donald Trump di sekolah-sekolah mulai mandek, bahkan di sejumlah distrik nyaris tidak berjalan sama sekali. Bagi keluarga kelas pekerja, ini bukan sekadar berita politik, melainkan persoalan perut anak yang harus diisi setiap hari.
Program ini sejatinya menyasar sekitar 30 juta siswa penerima makan siang sekolah yang sebelumnya bergantung pada skema bantuan federal. Anggaran yang dikelola melalui Departemen Pertanian AS (United States Department of Agriculture/USDA) sempat menjadi tulang punggung gizi anak negeri Paman Sam sejak era 1940-an. Ketika arah kebijakan berubah, ekosistem yang dibangun puluhan tahun itu ikut terguncang. Inilah yang membuat para pengamat gizi menyebut persoalannya bukan sekadar menu, melainkan keberlanjutan sebuah sistem.
Kebijakan Baru, Kerumitan Lama
Pemerintahan Trump mengusung pendekatan yang lebih menekankan efisiensi belanja negara dan pengalihan kewenangan ke pemerintah negara bagian. Dalam beberapa dokumen anggaran, alokasi untuk program bantuan pangan sempat dipangkas, sementara syarat kelayakan penerima diperketat. Akibatnya, sekolah-sekolah di distrik dengan sumber daya terbatas harus mencari dana tambahan sendiri. Ibarat seperti meminta sebuah restoran tetap menyajikan menu lengkap padahal pasokan bahan bakunya dipotong separuh.
Menurut data dari School Nutrition Association (SNA), sebuah asosiasi nasional pengelola gizi sekolah, lebih dari 90 persen distrik melaporkan kenaikan biaya operasional pada tahun ajaran terakhir. Kenaikan itu dipicu oleh inflasi bahan pangan, upah tenaga kerja dapur, hingga rantai logistik yang belum pulih sepenuhnya pasca pandemi COVID-19 (Coronavirus Disease 2019). Ketika subsidi federal tidak lagi menutup selisih tersebut, banyak sekolah memilih mengurangi porsi, menyederhanakan menu, atau menunda perluasan program.
"Program makan sekolah bukan sekadar anggaran, ini investasi jangka panjang pada generasi. Ketika dipotong, dampaknya baru terasa sepuluh hingga dua puluh tahun kemudian," ujar seorang peneliti kebijakan pangan publik yang enggan disebut namanya.
Analogi Rumah dengan Fondasi Retak
Untuk memahami kerumitannya, bayangkan program ini sebagai sebuah rumah besar. Pemerintah federal adalah pemilik lahan, pemerintah negara bagian adalah kontraktor, dan sekolah adalah penghuni. Jika pemilik lahan mengurangi pasokan material sambil tetap menuntut rumah berdiri kokoh, maka kontraktor dan penghuni yang harus menambal sana-sini. Dalam konteks ini, algoritma distribusi anggaran yang seharusnya memastikan keadilan justru menghasilkan ketimpangan antarwilayah. Distrik kaya bisa menutup celah dengan pajak properti lokal. Distrik miskin? Mereka menunggu, dan anak-anak terus belajar dengan perut keroncongan.
Sejumlah organisasi nirlaba seperti Feeding America melaporkan lonjakan permintaan bantuan pangan dari keluarga yang sebelumnya tidak pernah mengakses bank makanan. Ini menjadi indikator bahwa pengurangan cakupan program sekolah berdampak langsung ke dapur rumah tangga. Padahal, penelitian dari berbagai universitas menunjukkan korelasi kuat antara gizi cukup dan capaian akademik. Siswa yang cukup makan lebih mampu berkonsentrasi, lebih jarang absen, dan memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kronis.
Perbandingan dan Jalan Tengah
Beberapa negara telah membuktikan pendekatan berbeda. Finlandia, misalnya, menjadikan makan siang sekolah gratis sebagai hak universal sejak 1948 dan kini memiliki salah satu indeks gizi anak terbaik di dunia. Jepang mengintegrasikan program makan dengan pendidikan gizi, sementara Brasil mewajibkan minimal 30 persen bahan pangan berasal dari petani lokal. Berikut perbandingan singkatnya:
| Negara | Model | Cakupan |
|---|---|---|
| AS | Subsidi federal bersyarat | Sebagian siswa |
| Finlandia | Universal gratis | Semua siswa |
| Jepang | Gratis + edukasi gizi | Mayoritas siswa |
| Brasil | Gratis + pangan lokal | Semua siswa negeri |
Spesifikasi kunci: anggaran program makan sekolah AS berkisar puluhan miliar dolar per tahun, melayani sekitar 30 juta siswa, dengan biaya produksi per porsi rata-rata 3,5 hingga 4,5 dolar AS. Ketika subsidi per porsi turun di bawah 3 dolar AS, banyak dapur sekolah tidak lagi mampu memenuhi standar gizi federal.
Ke depan, jalan tengah yang banyak disuarakan adalah menggabungkan efisiensi digital, seperti sistem klaim berbasis platform untuk meminimalkan pemborosan, dengan jaminan anggaran dasar yang tidak mudah dipangkas oleh pergantian pemerintahan. Tanpa itu, program makan bergizi gratis hanya akan menjadi janji musiman yang habis seiring siklus elektoral. Bagi anak-anak AS, yang mereka butuhkan bukan disrupsi kebijakan, melainkan sepiring makan siang yang datang tepat waktu setiap hari.
Comments (0)