Pemberdayaan desa kerap dianggap urusan kedua, padahal justru di wilayah perdesaan itulah roda ekonomi sebagian besar penduduk Indonesia berputar. Ketika disrupsi digital mengubah cara orang berbelanja, bertransaksi, dan bekerja, desa yang tertinggal dalam adopsi teknologi berisiko semakin tertinggal pula secara ekonomi. Karena itu, langkah BRI (Bank Rakyat Indonesia) yang menggerakkan para relawannya ke Desa BRILiaN Sanur Kaja di Denpasar, Bali, layak dicermati: bukan sekadar kegiatan sosial sesaat, melainkan implementasi program pemberdayaan yang menyentuh empat kebutuhan paling dasar masyarakat, yaitu ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan kesehatan.
Mengapa Ini Penting bagi Kehidupan Sehari-hari
Ibarat seperti menumbuhkan pohon, memberdayakan desa tidak cukup hanya dengan menanam benih lalu pergi. Tanahnya harus diolah, disiram, dan dirawat agar tumbuh sendiri. Program Relawan Bakti BUMN yang digelar BRI di Sanur Kaja mengambil pendekatan serupa. Para relawan, yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai bank, turun langsung mendampingi warga dalam berbagai pelatihan dan aksi nyata. Tujuannya bukan memberi ikan, melainkan mengajarkan cara memancing, agar perubahan tetap berjalan setelah para relawan pulang.
Bagi warga, dampaknya terasa pada hal-hal sederhana: pemilik warung yang belajar mencatat keuangan lebih rapi, ibu-ibu yang mempelajari pemasaran produk melalui platform daring, hingga anak-anak yang mendapat pendampingan belajar. Dalam jangka panjang, peningkatan kapasitas seperti ini menjadi fondasi ekosistem ekonomi desa yang lebih tangguh menghadapi persaingan.
Empat Pilar: Ekonomi, Pendidikan, Lingkungan, Kesehatan
Program ini berjalan di atas empat pilar yang menjadi kerangka Relawan Bakti BUMN, sebuah gerakan yang melibatkan karyawan badan usaha milik negara (BUMN) di berbagai daerah. Pilar pertama adalah ekonomi. Relawan mendampingi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperbaiki tata kelola, memperluas akses permodalan, dan memanfaatkan kanal digital dalam berjualan. Pilar ekonomi menjadi fokus utama karena sebagian besar warga Sanur Kaja hidup dari sektor pariwisata dan jasa yang sangat dipengaruhi perputaran uang wisatawan.
Pilar kedua, pendidikan, diwujudkan melalui pendampingan belajar dan literasi keuangan sejak dini. Pilar ketiga, lingkungan, menekankan aksi kebersihan dan pengelolaan sampah, hal yang krusial bagi desa wisata seperti Sanur Kaja yang menggantungkan citranya pada keindahan pantai. Pilar keempat, kesehatan, berupa edukasi pola hidup bersih serta pemeriksaan sederhana bagi warga. Keempat pilar ini dirancang saling terkait: desa yang sehat dan bersih lebih menarik bagi wisatawan, wisatawan membawa pemasukan, dan pemasukan yang dikelola dengan literasi keuangan yang baik melahirkan kemandirian.
Teknologi dan Ekosistem Digital di Baliknya
Yang menarik, pemberdayaan desa masa kini tidak lagi mengandalkan pendekatan konvensional semata. BRI menopang jaringan Desa BRILiaN-nya dengan platform digital yang mempertemukan produk desa dengan pasar yang lebih luas. Di sini teknologi berperan besar: algoritma rekomendasi membantu produk lokal ditemukan pembeli, sementara konsep machine learning (pembelajaran mesin, cabang kecerdasan buatan yang memungkinkan sistem belajar dari data) mulai dipakai untuk memetakan potensi ekonomi tiap desa. Bagi warga, semua itu diterjemahkan menjadi pelatihan sederhana: cara memotret produk, mengisi katalog daring, hingga melayani pembeli lewat aplikasi pesan-antar.
BRI sendiri bukan pemain baru dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. Bank yang dirintis sejak akhir abad ke-19 ini memiliki sejarah panjang menyalurkan kredit usaha rakyat, dan kini hadir di puluhan ribu desa melalui program Desa BRILiaN. Dibandingkan program tanggung jawab sosial perusahaan pada umumnya yang cenderung seremonial, model relawan ini menekankan kedalaman pendampingan: pegawai dikirim bukan hanya membawa dana, tetapi juga keahlian yang mereka gunakan sehari-hari, mulai dari analisis keuangan hingga pemanfaatan teknologi perbankan.
Tantangan dan Harapan
Tentu, tantangan tetap ada. Efisiensi program sangat bergantung pada keberlanjutan: satu kali kegiatan relawan tidak akan mengubah struktur ekonomi desa. Dibutuhkan pengukuran dampak yang jujur, penelitian lanjutan atas kebutuhan warga, dan kolaborasi dengan pemerintah desa agar inovasi yang ditanam benar-benar berakar. Pengalaman berbagai daerah menunjukkan desa yang berhasil adalah desa yang mampu melanjutkan sendiri program pendampingan setelah pendampingnya pergi.
Bagi Sanur Kaja, kehadiran para relawan BRI setidaknya membuka satu hal penting: kesadaran bahwa teknologi dan pengetahuan keuangan bukan milik kota saja. Ibarat pupuk bagi tanah yang sudah subur, pendampingan yang tepat bisa mempercepat tumbuhnya ekonomi desa secara mandiri. Dan bila model ini direplikasi ke lebih banyak Desa BRILiaN di seluruh nusantara, manfaatnya tidak berhenti di satu desa di Bali, melainkan menyebar ke ekosistem ekonomi nasional yang lebih luas.
Comments (0)