Bisnis

Satelit NASA Rekam Kabut Asap Kebakaran Hutan Selimuti Kalimantan

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis hasil pemantauan satelit terbaru yang memperlihatkan kondisi wilayah Kalimantan yang kian me

Satelit NASA Rekam Kabut Asap Kebakaran Hutan Selimuti Kalimantan

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis hasil pemantauan satelit terbaru yang memperlihatkan kondisi wilayah Kalimantan yang kian mengkhawatirkan. Dari ketinggian orbit bumi, kawasan pulau terbesar di Indonesia tersebut tampak diselimuti lapisan kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas. Kondisi buruk ini dipicu oleh fenomena iklim El Niño yang memperpanjang masa kekeringan, sehingga memicu lonjakan signifikan pada jumlah titik api serta peningkatan emisi gas rumah kaca secara drastis.

Kronologi Peningkatan Kebakaran dan Penyebaran Asap

Berdasarkan data penginderaan jauh yang dihimpun secara bertahap, eskalasi kebakaran lahan gambut di Kalimantan mengalami peningkatan pesat seiring dengan memuncaknya musim kemarau. Urutan perkembangan bencana ekologis ini mencakup beberapa fase kritis:

  1. Penguatan Dampak El Niño: Fenomena El Niño menyebabkan penurunan curah hujan yang sangat drastis di wilayah Indonesia bagian tengah, menciptakan kondisi lingkungan yang sangat kering.
  2. Pengeringan Kubah Gambut: Kemarau panjang membuat lahan gambut kehilangan kelembapan alaminya, mengubah lapisan bahan organik tersebut menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.
  3. Deteksi Lonjakan Titik Api: Instrumen satelit mencatat peningkatan tajam jumlah titik api (hotspot) di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
  4. Pembentukan Selimut Asap Pekat: Kebakaran di bawah permukaan tanah (subsurface fire) menghasilkan asap pekat yang terdorong angin hingga menutupi ruang udara Kalimantan.

Analisis Citra Satelit dan Tingkat Emisi Karbon

Gambar yang ditangkap oleh instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) pada Satelit Terra dan Aqua milik NASA mengonfirmasi bahwa tutupan asap telah mencapai skala regional. Lapisan abu-abu kecokelatan tampak membentang ratusan kilometer, menutupi vegetasi hijau dan jaringan sungai utama. Kebakaran di kawasan gambut ini dikenal sangat sulit dipadamkan karena api merambat di bawah tanah secara lambat namun konsisten.

"Kebakaran lahan gambut yang terjadi selama periode El Niño tidak hanya menghancurkan ekosistem lokal secara masif, tetapi juga melepaskan cadangan karbon purba yang tersimpan di bawah tanah langsung ke atmosfer."

Data pemantauan atmosfer mengindikasikan bahwa emisi gas rumah kaca hasil karhutla periode ini melampaui ambang batas tahunan normal. Akumulasi senyawa beracun seperti karbon monoksida (CO) serta konsentrasi partikel halus PM2.5 meningkat tajam, menempatkan kualitas udara pada level ancaman serius bagi kesehatan manusia dan kestabilan iklim global.

Dampak Kesehatan Masyarakat dan Risiko Ekologis

Dampak tebalnya kabut asap kini dirasakan secara langsung oleh masyarakat di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah wilayah dilaporkan telah menembus kategori Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya. Kondisi ini mulai mengganggu aktivitas perekonomian serta mobilitas transportasi udara.

Langkah mitigasi darurat terus diupayakan melalui pemadaman darat, operasi bom air (water bombing), serta aplikasi teknologi modifikasi cuaca. Meski demikian, luasnya area terdampak membuat proses pemadaman memerlukan waktu dan sumber daya yang sangat besar.

  • Lonjakan Kasus ISPA: Laporan medis dari Puskesmas dan RSUD setempat menunjukkan kenaikan signifikan pasien infeksi saluran pernapasan akut.
  • Ancaman Habitat Satwa: Satwa langka yang dilindungi seperti orangutan terdesak keluar dari habitat aslinya akibat kerusakan vegetasi hutan.
  • Risiko Polusi Lintas Batas: Pergerakan angin berpotensi membawa sebaran asap menyeberangi perbatasan negara tetangga di Asia Tenggara.
Satelit NASA merilis pemantauan terbaru yang memperlihatkan Kalimantan diselimuti kabut asap pekat akibat Karhutla. Penguatan fenomena El Niño menjadi pemicu utama meletupnya titik api dan lonjakan emisi karbon. Baca berita lengkapnya di tautan berikut ini!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User