Teknologi

Saudi Kecewa Barat Soal Houthi, Poros Keamanan Timur Tengah Bergeser

Ketika kapal-kapal kargo yang mengangkut kebutuhan pokok dunia mulai menghindari Laut Merah, harga barang di rak-rak supermarket Eropa dan Asia ikut terancam naik. Inilah mengapa ketegangan antara Ara...

Saudi Kecewa Barat Soal Houthi, Poros Keamanan Timur Tengah Bergeser

Ketika kapal-kapal kargo yang mengangkut kebutuhan pokok dunia mulai menghindari Laut Merah, harga barang di rak-rak supermarket Eropa dan Asia ikut terancam naik. Inilah mengapa ketegangan antara Arab Saudi dan sekutu Baratnya bukan sekadar urusan diplomatik jauh di sana. Jantung perdagangan global, yang setiap tahunnya melewatkan sekitar 12 persen lalu lintas dagang dunia melalui jalur itu, kini berdenyut tidak stabil. Di balik layar, Riyadh dilaporkan mulai kehilangan kesabaran terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Eropa karena dinilai lambat dan setengah hati dalam membendung eskalasi serangan milisi Houthi di Yaman.

Dari Sekutu Setia Menjadi Mitra yang Meragukan

Hubungan Arab Saudi dan Barat sudah terjalin puluhan tahun. Ibarat seperti kontrak asuransi rumah yang mahal: pemilik rumah membayar premi besar setiap tahun, berharap ketika kebakaran datang, pemadam segera tiba. Namun ketika asap mulai mengepul, kata sumber yang memahami dinamika kebijakan luar negeri Riyadh, truk pemadam yang dijanjikan justru datang dengan selang setengah kosong. Kekecewaan ini mencuat setelah serangan milisi Houthi terhadap pelayaran internasional meningkat tajam sejak akhir 2023, sementara respons militer dan diplomatik Barat dinilai tidak sepadan dengan ancaman yang dihadapi.

Pemerintah Saudi memandang serangan-serangan itu sebagai ujian nyata terhadap komitmen keamanan Washington. Selama ini, Arab Saudi mengandalkan jaminan pertahanan Amerika Serikat sebagai pilar utama kebijakan luar negerinya. Namun perkembangan terbaru memunculkan pertanyaan mendasar: seberapa jauh jaminan itu benar-benar berlaku ketika Kepentingan Riyadh berbenturan dengan prioritas geopolitik Barat yang tengah terpecah oleh konflik di Eropa dan tekanan domestik masing-masing negara.

Anatomi Kekecewaan: Data dan Eskalasi

Untuk memahami skala persoalan, penting melihat angka-angkanya. Milisi Houthi, kelompok bersenjata yang menguasai sebagian besar Yaman utara, telah meluncurkan ratusan serangan terhadap kapal dagang dan instalasi militer sejak November 2023. Sebagian besar serangan menyasar jalur pelayaran Bab el-Mandeb, pintu masuk Laut Merah yang lebarnya hanya sekitar 26 kilometer di titik tersempitnya.

Dampaknya terukur: sejumlah perusahaan pelayaran global memilih memutar rute melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, menambah sekitar 9.000 kilometer dan 10 hingga 14 hari perjalanan. Biaya logistik melonjak, sementara premi asuransi pelayaran di kawasan itu naik hingga beberapa kali lipat. Bagi Saudi, yang ekonominya bergantung pada ekspor minyak melalui jalur serupa, ini bukan ancaman abstrak melainkan risiko langsung terhadap pendapatan negara.

Yang membuat Riyadh semakin gusar, operasi militer Barat yang dipimpin Amerika Serikat bersama Inggris dinilai lebih bersifat simbolik ketimbang strategis. Serangan udara terhadap posisi Houthi tidak menghentikan kemampuan kelompok itu meluncurkan drone dan rudal. Milisi justru memperluas target, termasuk mengancam instalasi minyak Saudi dan jalur pipa strategis.

AktorKepentingan UtamaRespons terhadap Houthi
Arab SaudiStabilitas perbatasan dan jalur ekspor minyakMendorong solusi politik dan operasi pertahanan
Amerika SerikatKeamanan pelayaran global dan tekanan terhadap IranSerangan udara terbatas, hindari konflik darat
EropaKelancaran rantai pasok dan harga energiMisi angkatan laut defensif, diplomasi terbatas

Pergeseran Poros: Antara Beijing, Moskow, dan Keraguan Lama

Kekecewaan terhadap Barat mendorong Riyadh mempercepat diversifikasi kemitraan. Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi semakin aktif menjalin hubungan dengan Tiongkok dan Rusia, termasuk dalam kerangka kerja sama energi dan teknologi. Kesepakatan normalisasi hubungan dengan Iran yang dimediasi Beijing pada 2023 menjadi sinyal kuat bahwa Riyadh tidak lagi sepenuhnya menggantungkan diri pada payung keamanan Washington.

"Arab Saudi tidak sedang meninggalkan Barat, tetapi mereka sedang menguji seberapa mahal harga kesetiaan itu," kata seorang analis kebijakan keamanan Timur Tengah yang meneliti dinamika aliansi kawasan, menggambarkan dilema yang dihadapi Riyadh.

Bagi pembaca awam, dinamika ini mungkin terdengar seperti permainan catur geopolitik yang jauh. Namun implikasinya sangat konkret. Ketika aliansi keamanan lama retak, ketidakpastian meningkat, dan ketidakpastian selalu diterjemahkan menjadi harga yang lebih mahal: minyak, pengiriman barang, hingga biaya energi rumah tangga. Inilah wajah baru disrupsi geopolitik, di mana algoritma diplomasi dan kepentingan ekonomi saling bertabrakan dalam ekosistem global yang semakin terfragmentasi.

Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah Arab Saudi kecewa, melainkan seberapa lama kesabaran itu bertahan. Jika Barat gagal menunjukkan komitmen nyata, peta aliansi Timur Tengah bisa berubah secara permanen, dan dengan itu, seluruh arsitektur keamanan energi dunia ikut bergeser.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User