Teknologi

Telkom Pisahkan InfraNexia, SBI Incar Durianpay, Inovasi RI Tertinggal

Lanskap teknologi Indonesia kembali bergolak dalam sepekan terakhir. Ada tiga peristiwa besar yang layak dicermati: langkah korporasi Telkom yang memisahkan unit infrastrukturnya menjadi entitas berna...

Telkom Pisahkan InfraNexia, SBI Incar Durianpay, Inovasi RI Tertinggal

Lanskap teknologi Indonesia kembali bergolak dalam sepekan terakhir. Ada tiga peristiwa besar yang layak dicermati: langkah korporasi Telkom yang memisahkan unit infrastrukturnya menjadi entitas bernama InfraNexia, manuver Bank SBI Indonesia yang dikabarkan tengah mengincar platform pembayaran Durianpay, serta temuan bahwa kesenjangan inovasi di Tanah Air masih belum menyempit. Ketiganya penting karena menyangkut arah ekosistem digital nasional ke depan, mulai dari tulang punggung konektivitas hingga cara kita bertransaksi sehari-hari.

Ibarat sebuah kota, infrastruktur telekomunikasi adalah jalan raya dan jembatan yang membuat semua kendaraan bisa lewat. Tanpa jalan yang memadai, toko online, aplikasi ride-hailing, hingga layanan streaming tidak akan berjalan lancar. Itulah mengapa langkah pemisahan unit bisnis infrastruktur ini bukan sekadar urusan internal perusahaan, melainkan menyangkut kualitas layanan digital yang dirasakan ratusan juta pengguna.

Di sisi lain, geliat akuisisi di sektor pembayaran menunjukkan bahwa perbankan mulai serius menyasar perusahaan rintisan teknologi finansial (financial technology/fintech) sebagai jalan pintas mempercepat transformasi digital mereka.

Telkom Cetak Entitas Baru: InfraNexia

PT Telkom Indonesia dikabarkan resmi memisahkan lini bisnis infrastruktur digitalnya ke dalam sebuah entitas tersendiri bernama InfraNexia. Langkah ini disebut sebagai strategi spin-off, yaitu pemisahan sebuah unit usaha menjadi perusahaan mandiri agar lebih lincah bergerak dan lebih mudah menggaet investor eksternal.

Secara teknis, infrastruktur telekomunikasi mencakup menara base transceiver station (BTS), jaringan serat optik, pusat data, hingga kabel bawah laut. Selama ini sebagian besar aset tersebut berada langsung di bawah naungan perusahaan induk. Dengan dipisahkan, InfraNexia bisa beroperasi layaknya penyedia infrastruktur netral yang melayani berbagai operator, bukan hanya untuk kebutuhan internal.

Analogi sederhananya: bayangkan Telkom selama ini memiliki jalan tol sekaligus mengoperasikan busnya sendiri. Setelah dipisah, InfraNexia fokus mengurus dan menyewakan jalannya kepada siapa pun yang mau lewat, sementara Telkom tetap menjalankan bisnis layanan untuk pelanggan. Pendekatan ini memungkinkan monetisasi aset yang sebelumnya kurang teroptimalkan, sekaligus membuka peluang kemitraan strategis dengan penyedia layanan digital lain.

Bank SBI dan Durianpay: Sinyal Konsolidasi Fintech

Kabar berikutnya datang dari sektor keuangan. Bank SBI Indonesia disebut tengah menjajaki akuisisi terhadap Durianpay, sebuah platform agregator pembayaran yang memudahkan merchant menerima transaksi dari berbagai kanal, mulai dari kartu kredit, dompet digital, hingga transfer bank.

Jika terealisasi, langkah ini menjadi penanda bahwa bank konvensional tidak lagi hanya membangun layanan digital dari nol, melainkan memilih mengakuisisi perusahaan rintisan agar bisa langsung memiliki teknologi dan basis klien yang sudah matang. Bagi Durianpay, bergabung dengan institusi perbankan berarti akses terhadap modal lebih besar, kepatuhan regulasi yang terjamin, serta jaringan merchant yang lebih luas.

Bagi konsumen, konsolidasi semacam ini berpotensi menghadirkan pembayaran yang lebih mulus dan biaya transaksi yang lebih efisien. Namun, ada pula kekhawatiran soal berkurangnya kompetisi bila makin banyak platform fintech tersedot ke dalam konglomerasi perbankan besar.

Kesenjangan Inovasi yang Tak Kunjung Rapat

Peristiwa ketiga justru menjadi catatan kritis. Sejumlah indikator menunjukkan bahwa kesenjangan inovasi Indonesia masih melebar, terutama jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Artinya, meski banyak startup bermunculan, kemampuan menciptakan teknologi inti alias deep tech masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Data belanja riset dan pengembangan (research and development/R&D) Indonesia kerap berada di bawah satu persen dari produk domestik bruto, jauh tertinggal dari Korea Selatan yang menembus angka lima persen. Keterbatasan ini berdampak pada rendahnya jumlah paten, minimnya peneliti berlisensi, serta ketergantungan pada teknologi impor.

“Tanpa investasi serius di riset dan pengembangan, kita hanya akan menjadi pasar teknologi, bukan pencipta teknologi,” demikian peringatan yang kerap muncul dalam berbagai diskusi ekosistem inovasi nasional.

Kesenjangan ini makin relevan ketika perusahaan besar sibuk melakukan spin-off dan akuisisi. Kedua strategi itu memang memperkuat posisi bisnis jangka pendek, tetapi belum tentu memperdalam kapasitas riset jangka panjang. Diperlukan kolaborasi antara kampus, industri, dan pemerintah agar ekosistem deep tech benar-benar tumbuh.

Menyatukan tiga peristiwa ini memperlihatkan satu pola: ekosistem teknologi Indonesia sedang bergerak cepat di level korporasi, namun masih berjalan lambat di level fondasi ilmu pengetahuan. Pemisahan InfraNexia dan potensi akuisisi Durianpay adalah sinyal kedewasaan industri. Namun tanpa lompatan pada riset dan inovasi, momentum tersebut berisiko berhenti sebagai transaksi bisnis semata, bukan transformasi yang menyentuh kehidupan sehari-hari secara mendalam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User