warkini.
Teknologi

Telkom Pisahkan InfraNexia, SBI Incar Durianpay, Jurang Inovasi Masih Membayangi

Ada tiga peristiwa dalam sepekan terakhir yang, jika dibaca berdampingan, memberi gambaran utuh tentang arah ekosistem teknologi Indonesia: pemisahan unit infrastruktur oleh Telkom, langkah akuisisi s...

Telkom Pisahkan InfraNexia, SBI Incar Durianpay, Jurang Inovasi Masih Membayangi

Ada tiga peristiwa dalam sepekan terakhir yang, jika dibaca berdampingan, memberi gambaran utuh tentang arah ekosistem teknologi Indonesia: pemisahan unit infrastruktur oleh Telkom, langkah akuisisi sebuah perusahaan pembayaran digital, dan pengingat pahit bahwa belanja riset nasional masih jauh tertinggal dibanding negara tetangga. Ketiganya bukan sekadar urusan korporasi. Bagi pengguna internet di rumah, pedagang kecil yang menerima pembayaran lewat kode QR (Quick Response), hingga mahasiswa yang berharap berkarier di sektor deep tech, tiga kejadian ini menentukan seberapa cepat, seberapa merata, dan seberapa murah layanan digital sampai ke tangan mereka.

Telkom dan Kelahiran InfraNexia: Saat Kabel dan Menara Dipisahkan dari Induknya

Langkah paling mencolok datang dari Telkom, yang memutuskan memisahkan bisnis infrastrukturnya ke dalam entitas tersendiri bernama InfraNexia. Dalam bahasa industri, aksi ini disebut spin-off atau pemisahan unit usaha, yakni pengubahan sebuah divisi internal menjadi perusahaan yang berdiri sendiri secara hukum, lengkap dengan manajemen, laporan keuangan, dan akses pendanaan sendiri.

Ibarat sebuah pasar induk yang memutuskan menjadikan gudang penyimpanannya sebagai perusahaan logistik terpisah. Selama ini gudang itu hanya melayani lapak milik sendiri. Setelah dipisah, ia bisa melayani pedagang dari pasar lain, bahkan pesaing pemiliknya dulu.

Isi InfraNexia sendiri adalah aset yang paling mahal sekaligus paling lambat menghasilkan uang: menara base transceiver station (BTS), jaringan serat optik (fiber optic), dan pusat data (data center). Tiga komponen ini adalah jalan raya tempat semua data bergerak. Tanpa fiber optic, panggilan video akan tersendat; tanpa pusat data, layanan komputasi awan (cloud) tidak punya tempat menyimpan.

Mengapa dipisah? Ada tiga alasan yang biasanya muncul. Pertama, efisiensi: unit infrastruktur punya logika bisnis berbeda dari unit layanan konsumen, sehingga menyatukannya dalam satu laporan keuangan sering menyembunyikan kinerja masing-masing. Kedua, akses modal: entitas terpisah bisa mencari investor langsung, termasuk dana pensiun dan investor global yang menyukai aset berbasis infrastruktur karena pendapatannya relatif stabil. Ketiga, netralitas: operator yang memisahkan infrastrukturnya lebih mudah menawarkan sewa jaringan ke operator lain tanpa terkesan memberi keuntungan ke diri sendiri.

Dampak jangka panjangnya bisa terasa di dua sisi. Positifnya, tawar-menawar harga sewa jaringan jadi lebih terbuka dan bisa menekan biaya bagi operator kecil. Risikonya, jika pengawasan lemah, entitas infrastruktur yang menguasai jalur bisa menjadi pemain dominan baru yang sulit ditantang.

SBI dan Durianpay: Rel Pembayaran Jadi Rebutan

Dari sisi transaksi, laporan pasar menyebut SBI tengah menjajaki pengambilalihan Durianpay, penyedia payment gateway atau gerbang pembayaran digital. Payment gateway adalah perangkat lunak yang menghubungkan toko daring dengan bank, dompet digital, kartu kredit, sampai kode QR, sehingga pemilik usaha tidak perlu mengurus kerja sama ke puluhan lembaga keuangan satu per satu.

Analoginya mirip mesin kasir dengan satu colokan universal. Apa pun merek dompet digital pelanggan, colokan itu yang mengurus percakapan teknisnya. Yang membuat perusahaan seperti Durianpay bernilai bukan banyaknya uang yang lewat, melainkan API (Application Programming Interface/antarmuka pemrograman aplikasi) yang rapi, dokumentasi yang mudah dipahami pengembang, dan kecepatan integrasi di sisi pedagang.

Bagi SBI, akuisisi semacam ini punya makna strategis tersendiri. Perusahaan keuangan yang memiliki gerbang pembayaran bisa menyalurkan kredit, asuransi, hingga layanan payroll ke basis pedagang yang sudah terhubung. Data transaksi menjadi bahan bakar untuk penilaian risiko, dan penilaian risiko yang akurat berarti bunga pinjaman yang lebih murah bagi warung dan toko kecil.

Yang perlu dicermati, konsolidasi di lapisan pembayaran membuat jumlah pemain makin sedikit. Ketika satu grup menguasai gerbang pembayaran sekaligus lembaga pembiayaan, pilihan pedagang menyusut dan posisi tawar mereka melemah. Ini bukan alasan menolak akuisisi, tetapi alasan mengapa pengawasan persaingan usaha di sektor keuangan digital harus bergerak secepat transaksinya.

Jurang Inovasi: Uangnya Ada, Risetnya Tertinggal

Berita ketiga tidak datang dari ruang rapat korporasi, melainkan dari data. Belanja riset dan pengembangan atau R&D (Research and Development/penelitian dan pengembangan) Indonesia masih berada di kisaran 0,3 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto), jauh di bawah Korea Selatan yang menembus 4 persen lebih, atau Jepang dan Jerman yang stabil di atas 3 persen.

Angka itu menjelaskan banyak hal. Jumlah peneliti per sejuta penduduk kita tertinggal jauh, publikasi ilmiah kita tumbuh tetapi jarang berujung pada paten yang dikomersialkan, dan sebagian besar perusahaan besar di Indonesia lebih memilih membeli teknologi jadi daripada membangunnya sendiri.

Pandangan yang kerap muncul di kalangan pelaku industri: Indonesia tidak kekurangan talenta digital, yang kurang adalah kesabaran struktural untuk membiayai riset yang hasilnya baru terlihat lima sampai sepuluh tahun kemudian.

Padahal tiga berita di atas saling berkaitan. Spin-off infrastruktur dan akuisisi perusahaan pembayaran adalah cara cepat menyerap kapasitas teknologi dari luar. Cara lambatnya adalah riset. Negara yang hanya mengandalkan cara cepat akan selalu menjadi pasar, bukan pencipta.

Apa Artinya bagi Kita?

Ada beberapa hal praktis yang bisa dipantau pembaca dalam beberapa bulan ke depan. Pertama, struktur kepemilikan InfraNexia: siapa investor yang masuk, dan apakah harga sewa jaringan benar-benar turun atau justru naik karena kini dikelola sebagai bisnis mandiri yang mengejar margin. Kedua, nasib pedagang kecil jika Durianpay berpindah tangan: apakah biaya layanan (merchant discount rate) tetap, naik, atau justru turun karena skala ekonomi membesar. Ketiga, apakah ada anggaran negara yang benar-benar menyentuh angka 1 persen PDB untuk riset, sebab di bawah itu sulit berharap muncul inovasi orisinal.

Teknologi jarang berubah karena satu peristiwa besar. Ia berubah karena rangkaian keputusan kecil yang saling menumpuk: satu kabel yang dipisahkan, satu perusahaan pembayaran yang berganti pemilik, satu anggaran riset yang ditambah atau dibiarkan. Tiga berita pekan ini adalah bagian dari tumpukan itu, dan arah tumpukannya masih bisa dibelokkan siapa pun yang peduli.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User