Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi menyampaikan pidato strategis dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS yang berlangsung di New Delhi, India, pada Sabtu (12/9/2026). Di hadapan para pemimpin dunia, Kepala Negara mengangkat kembali relevansi historis Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 guna memperkuat konsolidasi negara-negara berkembang yang tergabung dalam blok Global South.
Kronologi Agenda Sidang Pleno KTT BRICS ke-18
Rangkaian kehadiran delegasi Republik Indonesia pada forum multilateral ini berlangsung terstruktur dengan sejumlah tahapan penting sepanjang hari pelaksanaan:
- Pukul 09.00 IST: Presiden Prabowo tiba di Bharat Mandapam Convention Centre dan disambut langsung oleh Perdana Menteri India selaku tuan rumah KTT ke-18.
- Pukul 10.15 IST: Pembukaan Sidang Pleno Terbuka KTT BRICS yang memfokuskan agenda pada transformasi tatanan global yang inklusif dan berkeadilan.
- Pukul 11.30 IST: Presiden Prabowo menyampaikan pidato kunci dengan menekankan pentingnya persatuan kawasan Global South di tengah eskalasi konflik geopolitik dunia.
- Pukul 14.00 IST: Pelaksanaan dialog tingkat tinggi terkait arsitektur keuangan baru dan ketahanan pangan berkelanjutan.
Gaungkan Spirit Bandung dan Pepatah Nusantara
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo mengingatkan para kepala negara bahwa tantangan kontemporer seperti krisis iklim, ketimpangan ekonomi, serta fragmentasi perdagangan global membutuhkan solidaritas konkret. Prabowo secara khusus menyitir pepatah tradisional Indonesia untuk menegaskan pesan persatuan antarbangsa.
"Dunia saat ini berada pada persimpangan jalan yang krusial. Seperti pepatah luhur di Indonesia, bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh. Tanpa persatuan nyata di antara negara-negara berkembang, kita hanya akan menjadi penonton di tengah rivalitas kekuatan besar," tegas Presiden Prabowo di podium utama KTT BRICS.
Presiden menambahkan bahwa Dasasila Bandung yang dirumuskan 71 tahun silam tetap menjadi kompas moral diplomasi internasional Indonesia. Nilai-nilai kesetaraan kedaulatan, non-intervensi, dan penghormatan terhadap integritas teritorial dinilai semakin krusial untuk mencegah polarisasi yang destruktif bagi stabilitas ekonomi global.
Dorong Reformasi Arsitektur Keuangan dan Rantai Pasok Pangan
Selain diplomasi perdamaian, Indonesia mendorong implementasi kerja sama teknis di antara anggota BRICS dan negara mitra. Prabowo merumuskan tiga pilar kerja sama prioritas:
- Ketahanan Pangan Mandiri: Pembentukan jaringan pasokan pupuk dan bahan pangan strategis guna memitigasi ancaman kelaparan global.
- Diversifikasi Keuangan: Penguatan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction) guna meminimalkan kerentanan terhadap volatilitas mata uang global.
- Transisi Energi Berkeadilan: Akses pendanaan hijau yang terjangkau tanpa menambah beban utang bagi negara berkembang.
Langkah diplomasi aktif di New Delhi ini menegaskan kembali prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, serta memposisikan Jakarta sebagai jembatan dialog konstruktif dalam kancah internasional.
Comments (0)