Teknologi

Pakar UGM Desak Pemerintah Ratakan Fasilitas Pemantauan Gunung Api

JAKARTA — Fasilitas pemantauan gunung api aktif di berbagai wilayah Indonesia dinilai masih mengalami ketimpangan yang cukup signifikan. Sebagian besar ins

Pakar UGM Desak Pemerintah Ratakan Fasilitas Pemantauan Gunung Api

JAKARTA — Fasilitas pemantauan gunung api aktif di berbagai wilayah Indonesia dinilai masih mengalami ketimpangan yang cukup signifikan. Sebagian besar instrumentasi mutakhir saat ini masih terkonsentrasi di wilayah tertentu, sementara kawasan terpencil dan pulau terluar minim sarana deteksi dini bencana vulkanik.

Pakar Vulkanologi dari Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agung Harioko, menyoroti pentingnya modernisasi serta pemerataan alat pengawasan. Pasalnya, Indonesia tercatat memiliki 127 gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan masyarakat di sekitarnya.

"Memang masih terasa bahwa peralatan monitoring itu belum merata, di mana Gunung Merapi memiliki peralatan paling lengkap, tetapi di beberapa gunung api di pelosok kita hanya mengandalkan seismometer," ujar Prof. Agung Harioko.

Kronologi dan Kesenjangan Instrumentasi Mitigasi

Kondisi pemantauan aktivitas vulkanik di tanah air saat ini mencerminkan disparitas sarana teknis mitigasi bencana antardaerah:

  1. Konsentrasi Teknologi di Pulau Jawa: Gunung Merapi di perbatasan D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah menjadi percontohan dengan dukungan multi-parameter terlengkap, mulai dari pemantauan kegempaan, deformasi tubuh gunung (GPS dan tiltmeter), hingga sensor thermal.
  2. Keterbatasan di Wilayah Pelosok: Pos pengamatan di luar Jawa, khususnya kawasan timur dan pulau terluar, umumnya hanya ditunjang peralatan seismik dasar berupa satu unit seismometer analog atau digital sederhana.
  3. Defisit Data Sekunder: Minimnya instrumen lanjutan menghambat pengumpulan data geokimia gas vulkanik dan dinamika deformasi magma secara komprehensif, sehingga peringatan dini berisiko terlambat.

Tantangan Pengawasan 77 Gunung Api Tipe A

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, dari total 127 gunung api aktif di Indonesia, sebanyak 69 gunung api dipantau secara efektif melalui pos pengamatan permanen. Dari jumlah keseluruhan tersebut, terdapat 77 gunung api Tipe A, yakni gunung yang memiliki sejarah letusan magmatik sekurang-kurangnya satu kali sejak tahun 1600.

Gunung kategori Tipe A memerlukan sistem pengawasan langsung tanpa henti (real-time monitoring). Namun, tantangan geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan kerap menjadi kendala logistik, transmisi sinyal telemetri, serta pasokan daya listrik di lokasi pos pengamatan terpencil.

Rekomendasi Peningkatan Sistem Deteksi Dini

Untuk menekan risiko korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat erupsi, Prof. Agung Harioko merekomendasikan sejumlah langkah strategis bagi otoritas terkait:

  • Alokasi Anggaran Berkelanjutan: Menambah pengadaan stasiun seismik multiparameter dan stasiun pemantau deformasi di wilayah rawan bencana tinggi.
  • Pemanfaatan Teknologi Satelit: Mengoptimalkan integrasi citra satelit radar (InSAR) untuk memantau deformasi gunung api terpencil yang sulit dijangkau secara fisik.
  • Peningkatan Kapasitas SDM Pengamat: Memberikan pelatihan berkelanjutan bagi para petugas pos pengamatan di garis depan mitigasi bencana.

Pemerataan fasilitas ini dinilai mendesak guna memperkuat mitigasi bencana nasional, mengingat aktivitas vulkanik di zona Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) menuntut respons cepat dan akurat berbasis data ilmiah mutakhir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fahmi-reza

Reporter MotoGP/Formula 1. Meliput balapan motor dan mobil internasional.

Comments (0)

User